El Niño dan La Niña: Benarkah Pemanasan Global Bikin Makin Kuat?

Setiap beberapa tahun, cuaca Bumi kita suka jungkir balik gara-gara El Niño atau kembarannya yang 'dingin', La Niña. Fenomena ini bikin hujan pindah-pindah di daerah tropis, Australia jadi kering kerontang, sebagian Peru kebanjiran, pokoknya cuaca di hampir seluruh dunia ikut berubah.

Keduanya ini ibarat dua sisi mata uang dari satu sistem besar, namanya El Niño–Southern Oscillation (ENSO). Dan perlu kamu tahu, ENSO ini adalah penyebab terbesar perubahan iklim dari tahun ke tahun di Bumi kita! Perubahan cuaca ekstrem dari ENSO ini bahkan terjadi 'di atas' suhu Bumi yang terus naik gara-gara pemanasan global.

Pemanasan Global vs. Kekuatan ENSO: Ada Apa?

Nah, selama ini, kita belum tahu pasti nih, apakah pemanasan global bikin fenomena ENSO ini jadi makin kuat atau lebih dramatis? Kan logikanya, energi tambahan di atmosfer dan lautan bisa aja memicu ayunan cuaca yang lebih ekstrem, iya nggak sih?

Mencari Jawaban Lewat Karang Fosil

"Kami sudah sering melihat kejadian El Niño yang sangat kuat di akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21," kata Julie Cole, seorang ilmuwan lingkungan dari University of Michigan. "Yang kami tidak tahu adalah seberapa tidak biasanya kejadian-kejadian itu."

Sulitnya, data dari alat ukur modern itu terlalu singkat buat melihat tren jangka panjang. Apalagi model-model yang ada juga sering nggak sependapat. Makanya, tim Julie Cole punya ide brilian! Mereka merekonstruksi catatan suhu permukaan laut selama seribu tahun!

Caranya? Dengan menganalisis karang fosil dari Kepulauan Galápagos. Penelitian ini diharapkan bisa memberi kita gambaran lebih jelas tentang sejauh mana pemanasan global mempengaruhi 'si raksasa' ENSO ini.