Taiwan Heboh! 9 Orang Didakwa, Diduga Bantu Selundupkan Server AI Canggih ke China

Kabar mengejutkan datang dari Taiwan. Sembilan orang telah didakwa, termasuk manajer senior Nvidia dan dua karyawan Supermicro yang berbasis di Taiwan. Mereka diduga membantu memalsukan dokumen untuk menutupi ekspor ilegal server AI canggih ke China. Padahal, tindakan ini jelas-jelas melanggar aturan kontrol ekspor Amerika Serikat.

Detail Tuduhan dan Tersangka Buron

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa jaksa di Keelung memang belum merilis nama-nama para tersangka secara spesifik. Namun, mereka telah mengonfirmasi bahwa para tersangka "didakwa atas penyalahgunaan kepercayaan dan pemalsuan dokumen." Ironisnya, satu tersangka lain yang terkait dalam kasus serupa masih buron. Orang ini dituduh "menggelapkan dana dari perusahaan distributor" yang diduga membantu China mendapatkan chip Nvidia yang masuk kategori dibatasi.

Kenapa Ekspor Chip AI ke China Jadi Masalah Besar?

Jadi begini, sejak tahun 2022, Amerika Serikat telah memberlakukan aturan ketat. Mereka mewajibkan adanya izin khusus untuk ekspor semikonduktor atau chip canggih ke China. Tujuannya bukan main-main, yaitu untuk melindungi keamanan nasional AS dan memastikan mereka tetap berada di garis depan dalam persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI) global.

Kasus Supermicro yang Membuka Kotak Pandora di Taiwan

Kasus di Taiwan ini ternyata punya kaitan erat dengan penangkapan besar sebelumnya. Pada bulan Maret lalu, AS menangkap Wally Liaw, salah satu pendiri Supermicro. Dia dituduh telah menyalurkan server AI yang dibatasi senilai 2,5 miliar dolar AS (atau sekitar Rp 38 triliun lebih) ke China sejak awal tahun 2024. Penangkapan Wally Liaw inilah yang kemudian mendorong Taiwan untuk meluncurkan penyelidikan terpisah guna mengungkap lebih jauh skema ekspor ilegal tersebut.